Momen Pembuktian: “Monita Purwandani” Asesmen Profesionalisme Peserta Gada Utama

Berita9 Dilihat

Semarang, 27 Februari 2026 | Ruang itu tampak tenang, tetapi atmosfernya sarat makna. Di atas meja tersusun map-map portofolio yang menjadi saksi perjalanan panjang para peserta. Satu per satu nama dipanggil. Satu per satu pula mereka duduk berhadapan dengan asesor utama, “Monita Purwandani”.

Hari itu bukan hari biasa. Ini adalah uji kompetensi Gada Utama—jenjang tertinggi dalam kualifikasi profesi satuan pengamanan. Di level ini, yang diuji bukan lagi kemampuan teknis lapangan semata, melainkan kepemimpinan strategis, kematangan berpikir, dan ketangguhan dalam mengambil keputusan.

Peserta Kelompok 4 terdiri dari “Wyndo Regandha” dari PT Garda Wicaksana System, “Raramenua Paulus Frederik Rahasia” dari PT Garda Bakti Indonesia, “Mujiyono” dari PT PLN (Persero) UP3 Tegal – UID Jateng, “Prianto Hermawan” dari PT Pertamina EP PHR Zona 1, serta “Muhammad Rizal Suwandito” dari PT PLN UO2D Jateng & DIY.

Mereka datang dengan latar belakang pengalaman yang beragam, namun tujuan yang sama: membuktikan diri layak menyandang kualifikasi tertinggi.

Ujian yang Menggali Lebih Dalam

Sejak sesi pertama, “Monita Purwandani” menunjukkan ketegasannya. Setiap dokumen diverifikasi. Setiap pengalaman digali. Tidak ada ruang untuk jawaban normatif.

Ketika “Wyndo Regandha” memaparkan strategi pengelolaan risiko, pertanyaan lanjutan langsung menguji konsistensi dan implementasinya. Saat “Raramenua Paulus Frederik Rahasia” menjelaskan pola koordinasi pengamanan perusahaan, skenario krisis pun diajukan untuk melihat ketajaman analisisnya.

“Mujiyono” menguraikan pengamanan objek vital dengan detail prosedural. “Prianto Hermawan” menekankan pentingnya kepemimpinan kolaboratif lintas unit. Sementara “Muhammad Rizal Suwandito” memaparkan penguatan sistem pengawasan operasional di wilayah kerjanya.

Setiap paparan diuji dengan studi kasus nyata. Situasi darurat, potensi ancaman, hingga konflik internal organisasi menjadi bahan evaluasi. Di sinilah kualitas kepemimpinan terlihat—bukan pada teori, tetapi pada cara berpikir dan mengambil keputusan.

Tegas, Namun Tetap Humanis

Meski suasana formal dan serius, pendekatan “Monita Purwandani” tetap komunikatif. Ia mendengarkan dengan saksama, mencatat poin penting, lalu memberikan umpan balik yang konstruktif.

Jabat tangan di akhir sesi menjadi simbol profesionalisme. Bukan sekadar formalitas, tetapi bentuk penghargaan atas proses panjang yang telah dilalui setiap peserta.

Uji kompetensi ini bukan ajang menjatuhkan, melainkan memastikan standar benar-benar terpenuhi. Sebab pemegang sertifikasi Gada Utama kelak memikul tanggung jawab besar: merancang, mengelola, dan mengevaluasi sistem pengamanan secara menyeluruh.

Lebih dari Sekadar Lulus atau Tidak

Bagi para peserta, hari itu menjadi momen refleksi sekaligus pembuktian. Lulus atau tidak, proses asesmen memberi ruang evaluasi diri yang mendalam.

Di tengah dinamika ancaman keamanan yang semakin kompleks—baik fisik maupun nonfisik—kebutuhan akan pemimpin pengamanan yang kompeten menjadi semakin mendesak. Sertifikasi bukan hanya simbol, melainkan komitmen terhadap kualitas dan integritas.

Menjelang sore, suasana ruang uji mulai mencair. Map ditutup, kursi dirapikan, dan sesi foto bersama menjadi penanda berakhirnya rangkaian asesmen.

Namun makna hari itu tak berhenti di ruangan tersebut. Ia menjadi bagian dari upaya menjaga profesionalisme dan standar mutu pengamanan nasional.

Di balik meja asesmen, “Monita Purwandani” memastikan satu hal: bahwa setiap pemegang Gada Utama bukan hanya berpengalaman, tetapi benar-benar teruji.

Dan bagi “Wyndo Regandha”, “Raramenua Paulus Frederik Rahasia”, “Mujiyono”, “Prianto Hermawan”, serta “Muhammad Rizal Suwandito”, hari itu adalah langkah penting menuju tanggung jawab yang lebih besar.

TIM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *