Forum Asta Cita Indonesia Dorong Konsumsi Bertanggung Jawab untuk Dukung Indonesia Emas

Berita15 Dilihat

JAKARTA — JURNALIS NUSANTARA SATU — Transformasi pola konsumsi dan produksi menjadi salah satu agenda yang disoroti Forum Asta Cita Indonesia dalam mendorong pembangunan nasional yang berorientasi pada keberlanjutan. Perubahan tersebut dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pemanfaatan sumber daya, dan perlindungan lingkungan.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Forum Asta Cita Indonesia, Hasbi, mengangkat persoalan tersebut saat membuka Webinar Nasional Seri ke-9, Sabtu (10/10/2026).

Mengusung tema Ekosistem Konsumen dan Produksi yang Bertanggung Jawab terhadap Dampak Ekologis Pemanasan Global, kegiatan ini membahas tantangan dalam membangun sistem ekonomi yang lebih efisien, rendah emisi, dan memperhatikan dampak ekologis.

Dalam pidato pembukaannya, Hasbi menyoroti model ekonomi konvensional yang masih mengandalkan pola mengambil sumber daya, memproduksi barang, dan membuang sisa konsumsi. Menurut kerangka yang dipaparkan dalam webinar, pola tersebut perlu ditransformasikan melalui penerapan ekonomi sirkular.

Pendekatan ekonomi sirkular menempatkan efisiensi pemanfaatan bahan baku, pengurangan limbah, dan penggunaan kembali sumber daya sebagai bagian penting dalam kegiatan ekonomi.

Forum Asta Cita Indonesia juga mengaitkan agenda tersebut dengan tantangan perubahan iklim yang berpotensi memengaruhi ketahanan pangan, energi, dan air, serta menimbulkan dampak terhadap wilayah pesisir dan kesehatan masyarakat.

Keterkaitan dengan Agenda Asta Cita

Dalam pidatonya, Hasbi menekankan relevansi pembangunan ekosistem konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab dengan sejumlah agenda pembangunan nasional.

Salah satunya adalah penguatan ketahanan dan kemandirian pangan, energi, serta air melalui pendekatan ekonomi sirkular. Agenda lainnya berkaitan dengan pengembangan ekonomi hijau dan hilirisasi industri yang tidak hanya mengejar nilai tambah ekonomi, tetapi juga memperhatikan efisiensi sumber daya dan pengurangan emisi.

Forum juga menyoroti pentingnya mengintegrasikan prinsip produksi hijau dalam program swasembada pangan, pengembangan desa mandiri energi, serta modernisasi manufaktur yang adil dan inklusif.

Pendekatan tersebut menempatkan keberlanjutan lingkungan sebagai salah satu aspek yang perlu diperhitungkan dalam pelaksanaan pembangunan ekonomi.

Tiga Persoalan yang Perlu Diatasi

Forum Asta Cita Indonesia mengidentifikasi tiga hambatan utama dalam mempercepat transisi menuju sistem konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Pertama, rendahnya literasi konsumen mengenai produk ramah lingkungan. Keterbatasan informasi dapat menyulitkan masyarakat menilai klaim keberlanjutan suatu produk, terutama ketika berhadapan dengan praktik greenwashing.

Kedua, keterbatasan pembiayaan untuk penerapan teknologi hijau. Industri lokal, khususnya UMKM, membutuhkan dukungan agar mampu berinvestasi dalam teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Ketiga, belum optimalnya pelaksanaan regulasi yang mendorong perubahan sistem produksi. Forum menilai kebijakan insentif dan disinsentif perlu diselaraskan agar pelaku usaha memiliki dorongan yang lebih kuat untuk beralih dari model ekonomi linier.

Ketiga hambatan tersebut menjadi dasar bagi Forum untuk mengusulkan langkah strategis yang melibatkan pemerintah, sektor industri, pelaku usaha, dan masyarakat.

Dari Kebijakan hingga Perubahan Perilaku Masyarakat

Pada tingkat pemerintah, Forum mendorong percepatan penerapan tanggung jawab produsen yang diperluas atau Extended Producer Responsibility (EPR), serta pengembangan pengadaan barang dan jasa ramah lingkungan melalui skema green procurement.

Forum juga merekomendasikan insentif bagi industri yang menerapkan prinsip ekonomi sirkular dan perluasan akses terhadap pembiayaan hijau.

Di sektor usaha, langkah yang diusulkan mencakup audit energi berkala, peningkatan efisiensi penggunaan sumber daya, dan pengembangan kemasan sirkular. Transformasi ini juga diharapkan membuka peluang kerja baru melalui pengembangan sektor pekerjaan berbasis lingkungan atau green jobs.

Sementara itu, masyarakat didorong meningkatkan kesadaran dalam memilih produk dengan sertifikasi ekolabel resmi serta membiasakan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga.

Dengan demikian, perubahan menuju ekonomi berkelanjutan tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada kesiapan industri dan perilaku konsumen.

Peta Jalan hingga Jangka Panjang

Untuk mendukung pelaksanaan agenda tersebut, Forum Asta Cita Indonesia mengusulkan tahapan transformasi ekonomi hijau yang mencakup jangka pendek, menengah, dan panjang.

Dalam satu hingga dua tahun, prioritas diarahkan pada peningkatan literasi konsumen, sosialisasi standar sertifikasi hijau, serta uji coba pengadaan ramah lingkungan di sejumlah wilayah percontohan.

Pada periode tiga hingga lima tahun, Forum mendorong pengurangan emisi gas rumah kaca sektor manufaktur melalui penerapan teknologi hijau dan perluasan instrumen pajak serta perdagangan karbon.

Sementara itu, sasaran jangka panjangnya adalah terbentuknya struktur ekonomi nasional yang tangguh, mandiri, dan sirkular, sekaligus mendukung pencapaian target emisi nol bersih atau Net Zero Emission nasional.

Menutup pidato pembukaannya, Hasbi menegaskan komitmen Forum Asta Cita Indonesia untuk mengawal, mengkaji, dan mendorong implementasi peta jalan hijau melalui kolaborasi lintas sektor.

Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat arah pembangunan Indonesia menuju perekonomian yang tidak hanya produktif dan berdaya saing, tetapi juga memperhatikan daya dukung lingkungan serta kepentingan generasi mendatang. IRV

 

JURNALIS NUSANTARA SATU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *