Dari Jorong Haru, Zulhadi dan Dedi Irawan Tegaskan Komitmen Siapkan Generasi Tangguh Tanpa Stunting

Berita25 Dilihat

BATIPUAH | Di tengah hamparan perbukitan yang tenang di Jorong Haru, Nagari Bungo Tanjung, Kecamatan Batipuah, suasana berbeda terasa ketika dua anggota DPRD Kabupaten Tanah Datar, Zulhadi dan Dedi Irawan, hadir dalam agenda reses masa sidang I. Bukan sekadar menyerap aspirasi, keduanya membawa misi besar tentang masa depan generasi bangsa.

Reses kali ini terasa istimewa karena menyasar langsung ibu balita dan kader posyandu. Kehangatan terpancar dari wajah para ibu yang hadir, duduk melingkar sederhana namun penuh perhatian, menyimak setiap pesan yang disampaikan wakil rakyat mereka.

Zulhadi dari Fraksi PPP menegaskan bahwa Indonesia tengah menatap momentum satu abad kemerdekaan pada 2045. Ia mengajak seluruh orang tua untuk mengambil peran dalam menyiapkan generasi emas sejak dini, dimulai dari rumah tangga.

Menurutnya, stunting bukan hanya soal tinggi badan yang terhambat, tetapi juga soal kualitas pemikiran dan karakter. Anak-anak harus tumbuh sehat secara fisik, cerdas secara intelektual, serta kuat dalam moral dan adab.

Ia mengingatkan bahwa generasi emas 2045 tidak boleh mengalami stunting secara pikiran. Pendidikan dan keterampilan harus ditanamkan sejak awal agar kelak mereka memiliki skill dan soft skill yang mampu bersaing di era global.

Lebih jauh, Zulhadi menyinggung pentingnya membentengi anak dari dekadensi moral. Ia menekankan bahwa nilai adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah harus menjadi pondasi dalam membentuk generasi yang beradab, tangguh, dan bermartabat.

Sementara itu, Dedi Irawan dari Fraksi Golkar memilih pendekatan yang menyentuh sisi emosional para ibu. Ia mengibaratkan anak sebagai cermin. Apa yang dikirimkan orang tua, itulah yang akan dipantulkan kembali oleh sang anak.

Dedi mengingatkan para ibu agar berhati-hati dalam menjaga intonasi bicara. Dalam rutinitas harian yang melelahkan, tak jarang emosi tersulut ketika anak rewel atau terlalu aktif. Namun menurutnya, nada keras justru dapat mengganggu perkembangan psikologis anak.

Ia menekankan bahwa tindakan preventif dengan metode pendekatan persuasif jauh lebih efektif. Teguran lembut, komunikasi hangat, dan kesabaran menjadi kunci membentuk karakter anak yang percaya diri dan stabil secara emosional.

Dialog berlangsung interaktif. Para ibu tak segan berbagi pengalaman tentang tantangan mengasuh anak di tengah tekanan ekonomi dan aktivitas sehari-hari. Reses pun berubah menjadi ruang berbagi, bukan sekadar forum formal.

Sebagai wujud komitmen nyata terhadap program penanganan stunting, Zulhadi dan Dedi Irawan menyalurkan bantuan susu untuk balita usia 0–3 tahun, pampers, serta peralatan dapur bagi keluarga yang memiliki bayi. Bantuan tersebut disambut haru oleh para orang tua.

Langkah kecil dari Nagari Bungo Tanjung ini menjadi bagian dari upaya besar membangun generasi unggul di Tanah Datar. Reses bukan hanya tentang mendengar aspirasi, tetapi tentang menyemai harapan, menyentuh hati, dan memastikan masa depan anak-anak tumbuh sehat, cerdas, serta beradab.

Catatan Redaksi: Kegiatan reses yang menyasar ibu dan balita menunjukkan bahwa pembangunan generasi emas dimulai dari keluarga. Sentuhan edukatif dan bantuan nyata menjadi bukti bahwa perhatian terhadap stunting dan pembentukan karakter harus berjalan beriringan demi masa depan yang lebih baik.

TIM RMO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *