JNS, KABUPATEN SOLOK – Potensi perkebunan kopi di Kabupaten Solok memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat. Namun, optimalisasi potensi tersebut membutuhkan perubahan pola pengelolaan, mulai dari peningkatan kemampuan budidaya hingga pengembangan industri pengolahan dan pemasaran.
Arah pengembangan itu menjadi perhatian dalam kegiatan Farm Field Day, Sekolah Lapang Tanaman Kopi, dan Hilirisasi Tanaman Kopi yang digelar di Kecamatan Junjung Sirih, Selasa (3/11/2026).
Wakil Bupati Solok, H. Candra, S.H.I., yang hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa pembangunan perkebunan harus mampu menjawab kebutuhan ekonomi masyarakat sekaligus mengoptimalkan potensi sumber daya lokal.
Menurutnya, kopi memiliki peluang untuk dikembangkan tidak hanya sebagai komoditas pertanian, tetapi juga sebagai produk ekonomi yang dapat membuka kesempatan usaha dan lapangan kerja.
“Kabupaten Solok memiliki potensi yang harus kita kelola dengan serius. Kita ingin komoditas kopi berkembang dari sektor budidaya menjadi kekuatan ekonomi masyarakat. Karena itu, peningkatan kualitas produksi harus berjalan beriringan dengan pengolahan, inovasi produk, dan perluasan pemasaran.”
Candra mengatakan, sekolah lapang menjadi sarana penting untuk mempertemukan pengetahuan teknis dengan kebutuhan nyata petani. Melalui proses pembelajaran tersebut, petani diharapkan semakin memahami tata kelola perkebunan yang produktif dan berorientasi pada kualitas.
“Petani harus terus meningkatkan kapasitas dan pengetahuan. Dunia pertanian terus berkembang, begitu juga tuntutan pasar. Kalau kualitas produk kita baik dan pengelolaannya semakin profesional, peluang untuk meningkatkan daya saing tentu semakin terbuka.”
Ia juga menekankan bahwa hilirisasi tidak dapat berjalan tanpa keterlibatan dunia usaha dan dukungan pembiayaan.
“Kita membutuhkan kemitraan yang saling menguntungkan. Pemerintah menyiapkan dukungan kebijakan dan pembinaan, perbankan dapat membantu akses permodalan, sedangkan pelaku usaha ikut membuka peluang pengolahan dan pemasaran. Kelompok tani harus menjadi bagian penting dalam rantai ekonomi tersebut.”
Lebih jauh, Wabup Candra berharap program pemerintah provinsi dapat terintegrasi dengan arah pembangunan Pemerintah Kabupaten Solok serta kebijakan pemerintah pusat dalam memperkuat ekonomi produktif dan meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian.
“Jangan sampai potensi daerah hanya menjadi angka dalam perencanaan. Kita harus mampu mengubahnya menjadi kegiatan ekonomi yang nyata. Harapan kita, petani semakin sejahtera, usaha pengolahan tumbuh, dan produk lokal Kabupaten Solok semakin dikenal.”
Membangun Rantai Ekonomi Kopi
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Barat sebagai upaya memperkuat pengembangan komoditas perkebunan melalui pendekatan pembelajaran langsung dan hilirisasi.
Hadir dalam kegiatan itu Kepala Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Barat, Ir. Afniwirman; Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok yang diwakili Kabid Perkebunan, Taufik; Pimpinan Bank Nagari Syariah Solok, Dangyu; Pimpinan Bank Nagari Alahan Panjang, Yudi; serta Pimpinan Bank Nagari Arosuka, Hari.
Turut hadir Pj. Wali Nagari Paninggahan, Agung Satria MTD, S.IP., M.Si.; Sekjen PKP Pusat sekaligus Owner Coffee Rimbo Hulu, David Andika; penyuluh pertanian Kecamatan Junjung Sirih, dan kelompok tani se-Kecamatan Junjung Sirih.
Kehadiran unsur pemerintah, perbankan, pelaku usaha, dan kelompok tani menjadi peluang membangun hubungan yang lebih kuat antara sektor produksi dan sektor perdagangan.
Dalam konteks pembangunan daerah, sinergi tersebut penting agar program perkebunan tidak berjalan sendiri-sendiri. Dukungan pemerintah provinsi perlu diperkuat melalui koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan nagari, sehingga pembinaan petani memiliki kesinambungan.
Sementara itu, keterlibatan perbankan diharapkan membuka peluang pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan usaha perkebunan. Pelaku usaha juga memiliki peran strategis dalam mendorong standar kualitas, pengolahan, pengemasan, serta akses pasar.
Jika seluruh unsur tersebut dapat berjalan secara konsisten, komoditas kopi berpeluang memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas, tidak hanya bagi petani, tetapi juga bagi tumbuhnya usaha mikro, industri pengolahan, dan perekonomian nagari.
Pengembangan kopi Junjung Sirih pada akhirnya menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi daerah yang bertumpu pada potensi lokal, dengan petani sebagai pelaku utama dan pemerintah sebagai penggerak kolaborasi pembangunan. IRV










