Kapolres dan Istri Hadirkan Nuansa Kekeluargaan dalam Syukuran Idul Fitri

Berita24 Dilihat

PASAMAN BARAT | Di tengah suasana Idul Fitri 1447 Hijriah, Mako Polres Pasaman Barat menjadi ruang pertemuan yang tidak hanya menghadirkan doa, tetapi juga kehangatan. Kapolres Pasaman Barat, AKBP Agung Tribawanto, S.I.K., memimpin langsung kegiatan doa bersama dan syukuran yang berlangsung khidmat dan penuh makna.

Di bawah bentangan spanduk bertuliskan “Do’a Bersama dan Syukuran Kapolres Pasaman Barat Beserta Staf dan Bhayangkari dalam rangka Hari Raya Idul Fitri 1447 H”, para tamu berdiri berdampingan. Tidak tampak jarak antara pimpinan, anggota, dan masyarakat—semuanya menyatu dalam satu suasana.

Kapolres hadir bersama sang istri, Ketua Bhayangkari Cabang Pasaman Barat. Keduanya tampil sederhana, namun justru dari kesederhanaan itu terpancar kedekatan yang sulit dibuat-buat.

Doa bersama menjadi pembuka. Hening sejenak, kepala-kepala tertunduk, tangan terangkat, memanjatkan harapan yang sama: keselamatan, keberkahan, dan ketenangan untuk semua.

Namun lebih dari itu, ada pesan yang terasa tanpa harus banyak diucapkan—bahwa kehadiran polisi bukan hanya saat dibutuhkan, tetapi juga saat masyarakat ingin merasa dekat.

Dalam sambutannya, Kapolres AKBP Agung Tribawanto tidak berbicara panjang. Tetapi dari setiap kalimat yang disampaikan, tersirat ajakan untuk menjaga kebersamaan dan memperkuat silaturahmi.

Kehadiran Ibu Bhayangkari menambah warna dalam kegiatan tersebut. Ia tidak hanya mendampingi, tetapi ikut menyapa, tersenyum, dan berbincang dengan para tamu, terutama anak-anak yatim yang hadir.

Saat santunan diserahkan, suasana berubah menjadi lebih hangat. Bukan soal besar kecilnya bantuan, tetapi tentang perhatian yang diberikan dengan tulus.

Di sudut lain, beberapa tamu terlihat berbincang ringan dengan anggota kepolisian. Tidak ada sekat formalitas, tidak ada jarak yang membatasi. Semua terasa cair, seperti keluarga.

Inilah wajah lain dari sebuah institusi yang sering kali hanya dilihat dari sisi formal. Dalam momen seperti ini, terlihat jelas bahwa pendekatan kemanusiaan menjadi jembatan yang paling kuat.

Tausiah yang disampaikan semakin mempertegas bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan, tetapi kesempatan untuk memperbaiki hubungan—dengan sesama, juga dengan diri sendiri.

Kapolres dan Ibu Bhayangkari tampak menikmati setiap momen. Mereka tidak hanya hadir sebagai tuan rumah, tetapi sebagai bagian dari kebersamaan itu sendiri.

Di meja makan, suasana semakin akrab. Hidangan sederhana menjadi pengikat percakapan yang hangat dan penuh canda.

Tanpa disadari, kegiatan ini menyampaikan pesan yang lebih dalam: bahwa kepercayaan tidak dibangun dengan kata-kata besar, tetapi dari kehadiran yang tulus dan konsisten.

Doa penutup menjadi akhir dari rangkaian kegiatan. Namun kebersamaan yang tercipta tidak berhenti di situ—ia tinggal, dalam ingatan dan rasa.

Di hari yang fitri ini, doa bersama dan syukuran di Polres Pasaman Barat bukan hanya sebuah agenda. Ia menjadi cermin—tentang bagaimana kedekatan, kepedulian, dan kemanusiaan bisa hadir dalam bentuk yang sederhana, namun bermakna.

TIM RMO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *