Di Kumango, Silek Menyapa Zaman: Pandeka Menjaga Marwah Minangkabau Lewat Silaturrahmi

Berita24 Dilihat

JNS, Kumango — Tanah Datar | Pagi itu, Nagari Kumango tidak sekadar menjadi hamparan kampung tua di lereng Sungai Tarab. Ia menjelma ruang pertemuan para penjaga warisan. Di halaman nagari, langkah-langkah pandeka beradu irama dengan angin perbukitan, menghidupkan kembali denyut silek Minangkabau yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Minggu, 18 Januari 2026, Silaturrahmi Pandeka Silek Minangkabau yang Kelima digelar. Bukan sekadar agenda rutin, kegiatan ini menjadi penegasan bahwa silek masih berdiri tegak sebagai bagian dari jati diri masyarakat Minangkabau. Dari berbagai nagari dan daerah di Sumatera Barat, para pandeka, guru silek, serta perwakilan perguruan tradisi berkumpul dalam satu semangat persaudaraan.

Sejak pagi, masyarakat Nagari Kumango tampak antusias menyambut kedatangan para tamu. Tokoh adat, pemuda, hingga anak-anak nagari larut dalam suasana yang hangat dan penuh kebanggaan. Silaturrahmi ini bukan hanya milik para pandeka, tetapi juga milik masyarakat yang tumbuh bersama nilai-nilai silek dalam kehidupan sehari-hari.

Beragam aliran silek tradisi Minangkabau ditampilkan dalam perhelatan tersebut. Setiap jurus yang diperagakan memuat filosofi mendalam, tentang keseimbangan, kesabaran, serta adab dalam bersikap. Silek tidak dipertontonkan sebagai kekerasan, melainkan sebagai seni bela diri yang menuntun manusia mengenal batas, hormat kepada guru, dan patuh pada adat.

Di tengah pertunjukan, terlihat bagaimana silek menjadi bahasa yang menyatukan. Para pandeka dari latar belakang perguruan berbeda saling bersalaman, berdialog, dan bertukar pengalaman. Perbedaan aliran tidak menjadi sekat, melainkan kekayaan yang memperlihatkan luasnya khazanah budaya Minangkabau.

Wali Nagari Kumango, Iis Zamora, S.Pd, dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga atas terselenggaranya silaturrahmi tersebut di nagari yang dipimpinnya. Menurutnya, silek Minangkabau bukan sekadar keterampilan fisik, tetapi bagian dari pembentukan karakter masyarakat yang berlandaskan adat dan etika.

Ia menegaskan bahwa silek mengajarkan nilai-nilai kehidupan, mulai dari disiplin, pengendalian diri, hingga penghormatan terhadap sesama. Nilai-nilai inilah yang membuat silek tetap relevan, meski zaman terus berubah dan modernisasi kian kuat memengaruhi generasi muda.

“Silaturrahmi Pandeka Silek Minangkabau ini tidak hanya kita laksanakan di Nagari Kumango. Ke depan, kegiatan ini akan kita lanjutkan dan dilaksanakan di tempat yang berbeda-beda, agar pelestarian seni, budaya, dan bela diri tradisi Alam Minangkabau dapat terus hidup dan berkembang,” ujar Iis Zamora.

Pernyataan tersebut menjadi harapan bersama para pandeka yang hadir. Di tengah derasnya arus globalisasi, keberlanjutan silek sangat bergantung pada ruang-ruang pertemuan seperti ini. Silaturrahmi menjadi sarana penting untuk menjaga kesinambungan tradisi, sekaligus menanamkan nilai-nilai silek kepada generasi muda.

Bagi para guru silek, kegiatan ini juga menjadi ajang refleksi. Mereka menyadari bahwa tantangan terbesar saat ini bukan lagi soal mempertahankan jurus, melainkan memastikan nilai adat dan filosofi silek tetap dipahami dan diamalkan oleh murid-muridnya.

Selain pertunjukan, Silaturrahmi Pandeka Silek Minangkabau yang Kelima juga menjadi ruang dialog antar-perguruan se-Sumatera Barat. Dalam dialog tersebut, muncul kesepahaman bahwa silek adalah warisan budaya bersama, bukan milik satu kelompok atau aliran tertentu. Kesadaran ini menjadi fondasi penting untuk menjaga persatuan di antara para pelaku tradisi.

Nagari Kumango, sebagai tuan rumah, menjadi saksi bagaimana silek tidak hanya hidup di sasaran dan gelanggang, tetapi juga di ruang-ruang kebersamaan. Di sana, silek hadir sebagai perekat sosial, penguat identitas, dan penopang nilai adat yang selama ini menjadi ruh kehidupan Minangkabau.

Melalui Silaturrahmi Pandeka Silek Minangkabau yang Kelima ini, semangat persaudaraan antar-pandeka kembali diteguhkan. Harapannya, silek Minangkabau akan terus diwariskan, tidak sekadar sebagai seni bela diri, tetapi sebagai pedoman hidup yang menjaga marwah, adat, dan budaya Alam Minangkabau di tengah perubahan zaman.

(A. Rofiq)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *