Padang Pariaman | Di tengah puing-puing sisa banjir bandang dan luka yang masih membekas di hati masyarakat, sosok Ir. Weno Aulia Durin Dt. Tumangguang tampil sebagai penggerak utama aksi kemanusiaan Kosgoro 1957 di Sumatera Barat. Ketua Pimpinan Daerah Kolektif (PDK) Kosgoro 1957 Sumbar itu memilih turun langsung ke lapangan, memastikan solidaritas tidak berhenti pada seremoni, tetapi hadir nyata di tengah masyarakat terdampak bencana.
Sejak hari-hari awal pascabencana, Weno Aulia Durin mengoordinasikan kader Kosgoro 1957 Sumbar untuk bergerak cepat menjangkau titik-titik terparah. Bagi Weno, bencana bukan hanya soal kerusakan fisik, tetapi juga tentang bagaimana mengembalikan harapan warga yang sempat runtuh bersama derasnya arus banjir.
Komitmen itu terlihat jelas saat Kosgoro 1957 Sumbar menjadi tuan rumah sekaligus motor lapangan dalam kunjungan Ketua Pimpinan Pusat Kolektif (PPK) Kosgoro 1957, Dave Laksono, ke Sumatera Barat. Di bawah koordinasi Weno, rangkaian kegiatan kemanusiaan disusun rapi, mulai dari penyerahan bantuan hingga pengerjaan langsung fasilitas umum.
Bantuan yang disalurkan pun tidak sedikit. Selain uang tunai senilai Rp110 juta, Kosgoro 1957 juga menyalurkan alat ibadah, obat-obatan, serta makanan ringan. Namun bagi Weno Aulia Durin, nilai bantuan bukan hanya pada jumlahnya, melainkan pada ketepatan sasaran dan keberlanjutan manfaatnya bagi masyarakat.
Itulah sebabnya Weno mengarahkan fokus kegiatan pada pembangunan dan perbaikan jaringan air bersih. Salah satu titik yang menjadi perhatian adalah Tong Blau, Korong Kasang, Kabupaten Padang Pariaman. Di lokasi ini, kader Kosgoro 1957 Sumbar bergotong royong membangun kembali akses air bersih untuk rumah ibadah dan rumah warga.
Weno menyadari, air bersih adalah kebutuhan dasar yang tak bisa ditunda. Tanpa air, aktivitas ibadah, kesehatan, dan kehidupan sehari-hari masyarakat akan terus terganggu. “Kalau air bersih pulih, denyut kehidupan masyarakat akan perlahan kembali normal,” ujar Weno di sela-sela peninjauan lapangan.
Dalam sambutannya, Ir. Weno Aulia Durin Dt. Tumangguang menegaskan bahwa aksi ini merupakan titik kelima dari rangkaian solidaritas Kosgoro 1957 Sumatera Barat pascabencana. Sebelumnya, kegiatan serupa telah dilakukan di Kabupaten Tanah Datar dan Kota Padang Panjang, sebagai bentuk konsistensi organisasi dalam merespons musibah.
Secara serentak, pada Senin, 5 Januari, Kosgoro 1957 Sumbar melaksanakan kegiatan di tiga titik sekaligus. Dua titik berada di Kabupaten Padang Pariaman, yakni di Tong Blau Korong Kasai dan Tanah Taban Nagari Pasia Laweh, sementara satu titik lainnya berlokasi di Dadok Tunggul Hitam, Kota Padang.
Menurut Weno, pilihan menyasar banyak titik bukan tanpa pertimbangan. Ia ingin memastikan bahwa bantuan dan kerja nyata Kosgoro 1957 dapat dirasakan secara merata, terutama di wilayah yang luput dari sorotan namun mengalami dampak bencana yang sama beratnya.
Tak hanya infrastruktur fisik, Weno Aulia Durin juga menaruh perhatian besar pada pemulihan mental dan spiritual masyarakat. Melalui pendekatan trauma healing berbasis keagamaan, Kosgoro 1957 Sumbar berupaya menguatkan kembali batin warga agar mampu bangkit dari rasa takut dan trauma.
Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, arah gerak Kosgoro 1957 Sumbar semakin diperjelas. Weno menginstruksikan kadernya untuk memprioritaskan perbaikan fasilitas tempat ibadah, penyediaan air bersih, serta penyiapan perlengkapan ibadah agar masyarakat dapat menjalankan Ramadan dengan tenang dan khusyuk.
Bagi Weno, Ramadan adalah momentum pemulihan batin. Ia ingin memastikan bahwa meski dilanda bencana, masyarakat tetap bisa merasakan keteduhan dan kekuatan spiritual dalam menjalankan ibadah.
Kehadiran Kosgoro 1957 Sumbar di lapangan juga mendapat apresiasi dari Bupati Padang Pariaman, H. Jon Kennedy Aziz. Ia menyebut peran aktif Weno Aulia Durin dan jajaran Kosgoro 1957 sebagai kekuatan moral yang sangat berarti bagi pemerintah daerah dan masyarakat.
Di hadapan Dave Laksono, Weno turut menyuarakan harapan masyarakat Sumatera Barat agar perhatian pemerintah pusat dapat semakin kuat dalam mendukung proses recovery dan rehabilitasi pascabencana. Baginya, sinergi pusat dan daerah adalah kunci agar pemulihan berjalan cepat dan tepat.
Aksi yang dipimpin Ir. Weno Aulia Durin Dt. Tumangguang ini menjadi bukti bahwa solidaritas bukan sekadar slogan. Di tengah lumpur, puing, dan duka, Kosgoro 1957 Sumatera Barat memilih hadir, bekerja, dan membersamai masyarakat, menyalakan kembali harapan bahwa kehidupan akan terus berjalan, sekuat apa pun badai yang datang.
Wyndoee






